Program dan Kegiatan Jurusan Matematika

Maju Bersama dengan Berbagi

“Kamu Maju!”: Karakter Berani Bertanggung Jawab

Posted by tatagyes on December 13, 2010

(Tatag Yuli Eko Siswono, UNESA)

Pagi itu, suara riuh dalam sebuah kelas. Mahasiswa bercanda, saling bertanya tentang tugas-tugas yang diberikan dosennya. Mereka berjajar duduk dan seperti biasa barisan paling depan selalu kosong. Pukul 7.00, seorang dosen yang cukup senior bergelar profesor memasuki kelas. Mahasiswa sangat beruntung meskipun sang dosen terbilang sibuk karena harus mengajar di pascasarjana dan juga tugas-tugas lain, sang dosen tetap memberikan waktu yang sama untuk mahasiswa tingkat sarjana. Sang dosen tersenyum menghampiri asistennya, setelah menanyakan kabar kesehatan, sang dosen kembali ke depan kelas. “Wah masih kosong bangku depannya, kenapa? Sekarang yang duduk di belakang maju ke depan mengisi bangku kosong. Saya tunggu ya…Jangan takut kalau belajar ya harus berani”. Beberapa saat kemudian bangku barisan depan telah terisi. Dosen tersebut mulai menuliskan apa yang akan dibahas. Pertanyaan pertama sang dosen adalah “Mengapa materi ini penting anda pelajari?” Selama 5 menit dijelaskan manfaat materi itu dan dilanjutkan selama 30 menit menguraikan materi prasyarat yang mendasari materi itu. Mungkin tidak istimewa, tetapi dalam prosesnya tidak diuraikan satu per satu sendiri oleh dosen itu tetapi mahasiswa yang menjelaskan. Dosen itu hanya memberi pemicu, membuka kembali jaringan pengetahuan di benak mahasiswa. “Baik, kamu maju!”. Mahasiswa kelihatan enggan maju ke depan, karena belum tahu apa yang harus dikerjakan. ”Jangan khawatir, saya akan pandu”, kata dosen meyakinkan. Diberikan suatu konsep awal kemudian sang dosen menanyakan mengapa begini, mengapa begitu, apa arti simbol itu, dan bagaimana mengerjakannya. Kuliah matematika yang biasanya dipenuhi dengan simbol-simbol yang kosong arti dan aturan-aturan yang rumit, menjadi mudah dipahami. Mahasiswa seolah mengalami bagaimana konsep itu terbentuk dan percaya diri bahwa “saya bisa”. “Bagus kan, lagi sekarang kamu maju gantian”. Mahasiswa lain menoleh ke kanan ke kiri meyakinkan apakah dia yang harus maju. ”Benar, kamu maju”, sang dosen menanggapi keraguan mahasiswa. Mahasiswa itu menggerakan badannya maju ke depan siap diberikan tugas dan pertanyaan. Bila pertanyaan tidak dipahami, sang dosen akan mengurai menjadi pertanyaan-pertanyaan kecil, sehingga membimbing mahasiswa mendapat jawaban yang benar. Mahasiswa yang duduk di bangku depan, tengah, atau belakang harus siap ditunjuk untuk maju ke depan. Sang dosen tidak bertanya siapa yang bersedia maju mengerjakan tugas atau soal ini, tetapi meminta langsung maju ke depan. Mungkin hal itu dipandang tidak efektif dan pengalaman sang dosen memberi keyakinan bahwa agar mahasiswa paham dengan benar, mereka harus berani maju ke depan.
Permintaan sang dosen kepada mahasiswa untuk selalu maju ke depan ternyata tidak hanya dilakukan pagi itu saja. Pada setiap kesempatan mengajar pada semua jenjang, sang dosen mempraktekkan cara itu. Mengapa sang dosen melakukan itu? Pada kesempatan berbincang, sang dosen menjawab yang intinya mahasiswa harus dididik berani mengungkapkan pendapat yang relevan dengan bidangnya. Dia juga perlu bertanggung jawab, dilihat semua temannya, memahami suatu konsep dengan sebenarnya. Mereka harus mendalami konsep itu, dia perlu mandiri sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Caranya adalah dengan meminta mereka maju ke depan satu per satu menyelesaikan tugas. Tetapi tidak maju mengerjakan bergantian tanpa bimbingan atau maju menyelesaikan soal yang ada pada diktat atau buku. Maju itu dengan tujuan membangun keberanian, bertanggung jawab, mengarahkan berpikir sistematis, dan percaya diri karena harus sampai menemukan jawaban yang benar.
Strategi mengajar sang dosen ini menjadi kekhasan tersendiri. Keunikan ini mendorong mahasiswa mempersiapkan segala hal seandainya dia terambil secara acak untuk maju ke depan menjawab pertanyaan atau tugas sang dosen. Sang dosen pun menyakini dengan strategi ini. Hem…ini mungkin yang namanya karakter dan membangun karakter. Bahwa seseorang meyakini gagasannya, dan melaksanakan secara kontinu untuk membentuk satu watak tertentu seperti berani bertanggung jawab. Gagasan-gagasan itu akan menjadi bola salju, menggelinding mencakup watak-watak lainnya seperti mandiri, disiplin, berpikir kritis atau kreatif.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.