(Tatag Yuli Eko Siswono, UNESA)
Di tengah kuliah, mahasiswa mencatat dan memperhatikan penjelasan sang dosen. Dosen memberi tugas untuk mendiskusikan materi kuliah. Mereka berkelompok, bertanya dengan teman lainnya apa maksud tugas, bagaimana cara penyelesaian. Sang dosen dengan suara yang meyakinkan, memberikan uraian singkat mengarahkan tugas yang dimaksud.
Dosen berkeliling membimbing mahasiswa yang mungkin tidak jelas dengan tugas yang diberikan. Di dekati mahasiswa yang tampak diam tidak bekerja atau tidak bercengkerama dengan teman lainnya. ”Apa yang kamu kerjakan?”, selidiik dosen. ”Tidak bisa pak, saya tidak bisa…”, keluh mahasiswa klise. ”Oke, mana yang tidak bisa…”, lanjut sang dosen. ”Jawabannya tidak bisa….”, kilah mahasiswa. ”Kesulitannya apa? Kalau belum jelas bisa tanya pada teman kelompokmu”, petunjuk sang dosen menghidupkan kerjasama kelompok. Sang dosen melanjutkan membimbing mahasiswa tadi dengan memberi petunjuk-petunjuk kecil untuk mengarahkan pada jawaban yang diminta. Selanjutnya, berkeliling mengamati kegiatan yang dilakukan mahasiswa lainnya.
Tiba saatnya mahasiswa mendemonstrasikan hasil diskusinya, tiga kelompok menyajikan dan kesempatan mahasiswa untuk menanggapi. ”Ada yang bertanya?”, penyaji kelompok mengajak mahasiswa lain menghidupkan diskusi. Tetapi apa yang terjadi? Selang beberapa lama, hanya satu orang yang menunjuk jari, bersedia memberi tanggapan. Ternyata, itu pun bukan pertanyaan tetapi hanya ralat kecil yang tidak substansial. Pada kesempatan berikutnya, malah tidak ada yang mengajukan pertanyaan.
Sang dosen mengingatkan kembali bahwa yang bertanya akan mendapatkan tambahan nilai, untuk nilai partisipasi. Banyaknya bertanya akan menjadi indikasi keaktifan mahasiswa di ruang kuliah. Sang dosen mencoba memotivasi mahasiswa dan menerapkan prinsip reward and punishment. Mahasiswa tidak bergeming. Sesekali waktu prinsip itu memang berguna.
Tiba waktunya dosen memberikan refleksi dan membahas apa yang sudah didiskusikan di depan kelas. Sang dosen mempertegas apa yang telah dibahas. Kemudian mengajukan pertanyaan, ”Ada yang tidak bertanya?”. Mahasiswa masih diam sambil senyum keheranan dengan suruhan yang tidak lazim. ”Karena anda diam, berarti ada yang bertanya, sekarang kamu…. apa yang kamu tanyakan?”, sang dosen menunjukkan salah seorang mahasiswa untuk bertanya. Mahasiswa yang ditunjuk harus membuat pertanyaan yang berkaitan dengan topik yang dibahas.
Meminta mahasiswa membuat pertanyaan maupun memaksa mereka bertanya menjadi keunikan dosen ini. Kesempatan di awal penyajian maupun di tengah proses perkuliahan selalu memberi tugas membuat pertanyaan atau soal. Karakter yang ingin dibangun tampaknya adalah rasa keingintahuan, berpikir terbuka dan berpikir kritis.
Budaya bertanya di kampus, di sekolah maupun di forum ilmiah kita masih rendah sehingga perlu dipicu termasuk perkuliahan. Tugas membuat soal (pertanyaan) yang dikenal secara pedagogik sebagai pendekatan problem posing dapat memicu karakter berpikir kritis.
Berpikir kritis dapat dipandang sebagai kemampuan berpikir siswa untuk membandingkan dua atau lebih informasi, misalkan informasi yang diterima dari luar dengan informasi yang dimiliki. Bila terdapat perbedaan atau persamaan, maka ia akan mengajukan pertanyaan atau komentar dengan tujuan untuk mendapatkan penjelasan. Sebenarnya berpikir itu terdiri dari beberapa jenis. Berpikir sebagai suatu kemampuan mental seseorang dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif. Berpikir logis dapat diartikan sebagai kemampuan berpikir siswa untuk menarik kesimpulan yang sah menurut aturan logika dan dapat membuktikan bahwa kesimpulan itu benar (valid) sesuai dengan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya yang sudah diketahui. Berpikir analitis adalah kemampuan berpikir siswa untuk menguraikan, memerinci, dan menganalisis informasi-informasi yang digunakan untuk memahami suatu pengetahuan dengan menggunakan akal dan pikiran yang logis, bukan berdasar perasaan atau tebakan. Berpikir sistematis adalah kemampuan berpikir siswa untuk mengerjakan atau menyelesaikan suatu tugas sesuai dengan urutan, tahapan, langkah-langkah, atau perencanaan yang tepat, efektif, dan efesien. Ketiga jenis berpikir tersebut saling berkaitan. Seseorang untuk dapat dikatakan berpikir sistematis, maka ia perlu berpikir secara analitis untuk memahami informasi yang digunakan. Kemudian, untuk dapat berpikir analitis diperlukan kemampuan berpikir logis dalam mengambil kesimpulan terhadap suatu situasi.
Berpikir kreatif dapat juga dipandang sebagai suatu proses yang digunakan ketika seorang individu mendatangkan atau memunculkan suatu ide baru. Ide baru tersebut merupakan gabungan ide-ide sebelumnya yang belum pernah diwujudkan
Strategi dosen meminta mahasiswa membuat soal (pertanyaan) berdasarkan informasi yang diberikan dapat mendorong berpikir kritis, sekaligus memahami konsep yang dikuliahkan. Hal tersebut karena ketika mahasiswa berusaha membuat pertanyaan akan menggunakan pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki dan menggerakkan ingatan jangka panjangnya, mempelajari kembali pengetahuan awal yang dimiliki.
Strategi ini paling tidak membangun budaya dan karakter berani bertanya yang akhirnya membiasakan mahasiswa berpikir kritis pada setiap kesempatan perkuliahan.