oleh Tatag Yuli Eko Siswono
Penelitian tindakan kelas bukanlah istilah asing bagi guru. Sejak tahun 90-an istilah ini mulai memasuki lingkaran aktivitas guru. Kebijakan pemerintah tentang syarat kenaikan guru dari golongan IV A menuju golongan IV B dengan membuat karya tulis berupa penelitian PTK menjadi salah satu kendala yang menghambat jenjang pangkat guru. Guru aktif yang berada pada golongan IV B ke atas sangat sedikit jumlahnya bila dibandingkan yang berada pada golongan IV A. Golongan IV A seolah-olah merupakan golongan tertinggi yang bisa dicapai guru. Kondisi ini paling tidak berdampak pada kesejahteraan guru, meskipun kenaikan gaji pada tingkat lebih atas bila dibandingkan dengan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok tidaklah sebanding.
Kebijakan pemerintah tentang sertifikasi guru juga menempatkan penelitian sebagai salah satu karya pengembangan profesional. Guru yang profesional tugasnya tidak hanya merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajarannya tapi juga melakukan penelitian. Penelitian tersebut untuk memperbaiki kualitas pembelajarannya sekaligus menuangkan ide-ide kreatif tentang inovasi pembelajaran yang berbasis kelas masing-masing. Kenyataannya sangat minim karya yang dibuat guru yang dilampirkan pada portofolio. Kalaupun ada karya penelitian, maka memunculkan kecurigaan tentang ”orisionalitas” karya yang dibuat. Penelitian-penelitian itu masih tidak menyentuh masalah sesungguhnya yang dihadapi dan cenderung mengikuti suatu ”cetakan” tertentu, sehingga hanya sekedar ”copy-paste” dari karya penelitian yang dianggap benar.
Sebenarnya, para guru sudah seringkali dilatih dan diberikan pencerahan tentang bagaimana pentingnya PTK dalam kedudukannya sebagai guru. Para guru juga sudah seringkali mendapatkan pelatihan, mengikuti workshop, atau seminar-seminar bertema PTK. Kegiatan-kegiatan itu seolah menjadi program rutin yang dimunculkan oleh dinas-dinas pendidikan, pemerintah dengan berbagai program dan proyek, juga sekolah-sekolah atau pihak-pihak swasta yang perhatian pada masalah tersebut. Kenyataannya, usaha itu belum menggerakkan guru menciptakan karya penelitian itu. Guru bila berkolaborasi dengan dosen dalam membuat PTK lebih sering sebagai pihak penyerta saja bukan sebagai inisiator. Memang kondisi ini dipengaruhi banyak hal, salah satunya sebagai contoh adalah tidak adanya insentif atau bantuan dana penulisan penelitian bagi guru yang rutin dari suatu instansi. Kalaupun ”ada” yang sifatnya insidental, informasi dan ”keberadaan”-nya tidak transparan. Kenyataan ini membuat guru masgul dan pada akhirnya mereka menyerah. Minat yang menggebu pun surut seketika. Berbeda dengan dosen, insentif bantuan penelitian rutin dikucurkan melalui hibah-hibah kompetisi. Dosen bisa berkolaborasi dengan guru mengembangkan penelitian tentang inovasi pembelajaran yang didanai melalui program penelitian inovasi pembelajaran di sekolah (PIPS). Dosen juga dapat merancang inovasi perkuliahannya dengan program penelitian untuk peningkatan kualitas pembelajaran (PKKP). Adanya insentif memang tidak secara otomatis menggerakkan dosen melakukan penelitian. Dosen yang rutin atau berminat melakukan penelitian juga tidak banyak. Karena model kompetisi untuk mendapatkan bantuan itu membuat pesimis para dosen yang berpikir negatif, misalkan paling yang dapat hanya itu-itu saja. Sebagian besar juga, karena menemukan alternatif lain yang lebih prospektif daripada meneliti, misalkan dengan banyak mengajar atau mengembangkan usaha-usaha lain.
Kembali pada guru yang memang meneliti bukanlah tugas pokoknya. Masalah yang sering dihadapi ketika mereka begitu sangat berminat melakukan penelitian adalah bagaimana memulai penelitian itu?
Dalam memulai penelitian, pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi suatu masalah. Suatu persiapan PTK diawali dengan adanya masalah yang dirasakan atau disadari oleh guru. Merasakan adanya masalah ditunjukkan dengan ketidakpuasan terhadap pembelajaran yang dilaksanakan. Guru berpikir balik (reflektif) untuk melihat kelemahan pembelajaran yang dilakukan. Untuk melakukan itu diperlukan sensitivitas terhadap suatu masalah. Masalah penelitian tidak muncul dari langit. Masalah penelitian tindakan kelas muncul dari kelas sendiri. Masalah yang dipilih harus memenuhi syarat sebagai masalah yang penting bagi peneliti dan sekaligus berarti, serta diperkirakan dapat diselesaikan. Misalkan hasil refleksi guru menunjukkan salah satu penyebab rendahnya kualitas pembelajaran karena muatan kurikulum yang terlalu padat. Peneliti tertarik untuk membuat desain kurikulum yang berbeda. Masalah tersebut menarik tetapi membutuhkan waktu relatif ”lama” dan belum tentu terselesaikan, sehingga perlu dipilih alternatif masalah lain yang dapat segera diselesaikan dan berdayaguna.
Menemukan masalah merupakan langkah awal melakukan penelitian. Bagaimana menemukan masalah tersebut? Pertamakali, guru perlu bertanya pada diri sendiri (refleksi) tentang proses pembelajaran dan menuliskan semua kejadian yang memerlukan perhatian terutama berkaitan dengan pembelajaran terhadap suatu bidang studi yang diampu, misalnya: penyampaian materi, daya tangkap siswa, intensitas waktu, sikap siswa, atau motivasi siswa. Berikutnya, semua kejadian yang ada dikelompokkan atau diklasifikasikan menurut jenis permasalahannya. Misalkan, siswa sering salah konsep terhadap suatu materi, hasil belajar rendah, atau tidak mampu berpikir kritis dapat dikelompokkan sebagai masalah hasil belajar siswa di kelas. Siswa mengantuk ketika belajar, ingin cepat selesai, atau malas bertanya dapat dikelompokkan sebagai masalah motivasi siswa. Setelah langkah itu, kondisi-kondisi itu diurutkan dari klasifikasi ringan sampai yang berat dari jenis masing-masing klasifikasi. Klasifikasi ini tergantung pada penilaian peneliti (guru) yang memahami masalah pembelajaran di kelasnya. Terakhir, guru perlu memilih dua sampai lima masalah dan mengkonfirmasikan kepada sejawat yang mengajar dalam mata pelajaran sejenis baik di sekolah yang sama atau sekolah lain. Langkah ini diperlukan untuk memberi keyakinan bahwa masalah yang dipilih memang layak diteliti dan memang menjadi masalah yang segera perlu diatasi.
Jika masalah telah ditemukan, langkah kedua adalah menganalisis masalah. Analisis dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri (refleksi) atau mengkaji ulang berbagai dokumen seperti pekerjaan siswa, daftar hadir, daftar nilai atau bahan pelajaran yang dibuat selama ini. Misalkan jika masalah yang teridentifikasi adalah rendahnya motivasi, maka yang dianalisis adalah dokumen tentang hasil belajar, catatan harian tentang respon siswa, dan yang terpenting refleksi terhadap proses pembelajaran yang dilakukan sebelumnya. Sebagai contoh, ternyata setelah dianalisis dari daftar hadir siswa sebanyak 10% siswa sering tidak hadir tanpa pemberitahuan, nilai rata-rata hasil belajar 50,5 tidak memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM), soal-soal yang diberikan selama ini monoton tidak menantang, LKS dan buku siswa yang dipakai hanya berisi soal-soal rutin bukan pemecahan masalah, aktivitas bertanya siswa hanya 1-2 siswa yang bertanya, atau pembelajaran dilakukan sering dengan ceramah, memberi contoh, dan memberi tugas. Hasil analisis ini digunakan untuk mendukung hasil identifikasi masalah bahwa suatu masalah disebabkan oleh kondisi-kondisi yang didukung oleh data bukan hanya persepsi atau perkiraan dari peneliti. Tidak semua kondisi memungkin secara langsung menjadi penyebab masalah tersebut. Misalkan pada contoh di atas kemungkinan besar masalah rendahnya motivasi siswa, diindikasikan dengan adanya ketidakhadiran siswa, soal-soal pada LKS atau buku siswa tidak menantang, atau pembelajaran yang monoton atau berpusat pada guru. Guru harus menfokuskan pada masalah yang mungkin dapat ditanggulangi dan menjadi prioritas untuk ditangani. Misalkan pada masalah rendahnya motivasi siswa, guru dapat memprioritaskan pada pengelolaan pembelajaran untuk mengatasinya. Alternatif lain adalah pada pengembangan bahan ajar (bukusiswa, LKS), atau pemberian tugas.
Setelah menganalisis masalah dan guru yakin terhadap pilihan masalah tersebut, maka langkah ketiga adalah mencari pemecahannya. Pada masalah di atas, guru memprioritaskan penanggulangan pada pengelolaan pembelajarannya. Untuk itu, guru perlu mencari referensi-referensi, menggali pengalamannya,dan mengamati hal-hal yang dapat mendorong motivasi seseorang. Referensi yang dimaksud dapat berupa buku-buku, hasil-hasil penelitian yang relevan, diktat-diktat pelatihan, atau majalah/koran yang terkait. Contoh, setelah mempelajari referensi tentang pembelajaran tematik, guru yakin bahwa pembelajaran tersebut dapat mengatasi motivasi siswa. Sedangkan, untuk menggali pengalaman dapat dilakukan dengan mengingat pengalaman ketika menjadi ”siswa”, mengajar pada kelas-kelas sebelumnya, atau menyaksikan teman sejawat ketika mengajar. Selain itu, mengamati hal tertentu dapat menjadi inspirasi dan melengkapi usaha untuk mengatasi suatu masalah. Contoh, ketika melihat penjual obat yang membangkitkan minat pembeli atau menyaksikan anak yang riang ketika bermain. Bila hasil dari bacaan suatu referensi, pengalaman yang terkait, dan pengamatan tersebut dipadukan, maka akan diperoleh suatu cara pemecahan yang menjanjikan. Fokus masalah dan pemecahan ini, dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya. Contoh ”bagaimana pembelajaran tematik yang dapat meningkatkan motivasi siswa” atau ”apakah pembelajaran tematik dapat meningkatkan motivasi siswa”. Rumusan masalah tersebut dapat lebih dioperasional, antara lain: bagaimana bentuk tematik yang dapat memotivasi siswa, bagaimana syarat materi tematik yang menarik, bagaimana aktivitas siswa selama pembelajaran tematik, atau bagaimana hasil belajar siswa setelah belajar dengan tematik. Dalam mencari pemecahan masalah setelah melakukan pengkajian terhadap berbagai sumber, menggali pengalaman, dan melakukan pengamatan, maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan yaitu pembelajaran tematik dapat meningkatkan motivasi siswa. Hipotesis tindakan bukanlah hipotesis hubungan antar variabel atau perbedaan antar variabel tetapi dugaan guru tentang cara yang “terbaik”untuk menghasilkan perbaikan dalam pendidikan.
Langkah keempat adalah mempersiapkan dan melaksanakan penelitian. Untuk mempersiapkan PTK, guru perlu memahami ciri dan prosedur dari PTK. Misalkan PTK dilaksanakan secara siklik atau berputar. Setiap siklus terdiri langkah perencanaan, tindakan, pengamatan, evaluasi dan refleksi. Satu siklus terdiri dari lebih dari dua pertemuan, dan satu siklus tidak sama dengan satu pertemuan. Sasaran penelitian bersifat kasus khusus yang terjadi pada satu kelas. Hal lain yang perlu dipersiapkan adalah (1) Membuat skenario tindakan atau rencana pembelajaran. Skenario harus sesuai dengan kegiatan tindakan yang dipilih. Guru perlu menyiapkan bahan, tugas, materi, atau penilaian yang akan dilakukan. (2) Menyiapkan sarana dan prasarana pendukung, seperti papan nama kelompok, media, alat pembelajaran, atau sarana lain yang terkait. (3) Menyiapkan cara mengumpulkan dan menganalisis data yang berkaitan dengan proses dan hasil perbaikan. Guru perlu menetapkan data apa yang harus dikumpulkan, bagaimana cara mengumpulkan, dan bagaimana menganalisisnya. Untuk melakukan itu diperlukan indikator keberhasilan. Indikator keberhasilan adalah kriteria yang digunakan sebagai petunjuk ketercapaian suatu tindakan yang dapat diukur dengan jelas. Misalkan hasil belajar siswa dikatakan meningkat, bila rata-rata hasil belajar siswa pada tiap siklus berikutnya lebih tinggi dari sebelumnya. Motivasi siswa meningkat, jika siswa cenderung mengatakan cara pembelajaran menyebabkan minat belajarnya semakin muncul daripada cara sebelumnya.
Kegiatan berikutnya setelah semua persiapan dilaksanakan adalah melaksanakan tindakan. Pelaksanaan mengikuti siklus perencanaan, tindakan, pengamatan termasuk evaluasi, dan refleksi, kemudian melakukan perbaikan rencana jika indikator keberhasilan tidak terpenuhi. Hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan PTK adalah penelitian terintegrasi dengan pembelajaran yang menjadi tugas profesi guru, sehingga tidak boleh mengorbankan siswa demi penelitian. Peneliti harus bersikap jujur, teliti, dan bertanggung jawab terhadap kesahihan data.
Langkah paling berat dan sulit dalam memulai PTK sebenarnya adalah memotivasi diri agar berusaha dan mau mencoba. Kalau dorongan demikian kuat, maka apapun kesulitan akan teratasi. Mudah-mudahan bapak ibu guru segera memulai dan berani menuangkan ide-ide inovatifnya melalui penelitian. Dengan begitu, bapak-ibu guru semakin layak disebut sebagai guru profesional. Pasti semua bisa!!!